Pendidikan Karakter
Remaja merupakan masa di mana seseorang beranjak dan juga
tumbuh dari masa anak – anak ke masa dewasa, oleh sebab itu masa remaja sering
kali disebut dengan masa transisi. Usia remaja sendiri biasanya diperkirakan
dari usia 10 sampai dengan 21 tahun. Pada masa itu seseorang mengalami yang
namanya pubertas di mana karakternya bisa berubah – ubah tergantung dengan
kondisi lingkungannya itu sendiri. Hal tersebut karena pada masa remaja
tersebut seseorang sedang mencari jati dirinya, oleh karena itulah pada masa
remaja sangat penting untuk mendapatkan pendidikan karakter. Dengan adanya pendidikan untuk membangun
karakter tersebut tentu saja nantinya akan bisa mengarahkan dan juga membentuk
karakter yang positif sehingga nantinya tidak mudah terpengaruh dengan hal –
hal yang negative. Mengingat sekarang ini semakin majunya zaman dan juga
teknologi bertambah banyak pula remaja yang memiliki karakter negative di mana
sering kali melakukan tindak kejahatan seperti perampokan, pencurian, geng motor,
perkosaan sampai dengan pembunuhan, bahkan tak jarang pula siswa yang masih
bersekolah melakukan tawuran sampai mejatuhkan korban jiwa.
Adapun Pendidikan
Karakter menurut sumber referensi dan para ahli sebagai berikut:
a. Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara
sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk
mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat,
dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh
Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan
karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk
membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan
nilai-nilai etika yang inti.
b. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,
bangsa, maupun negara.
c. Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki
oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar
pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang
mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu
(Kertajaya, 2010).
d. Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut kamus psikologi, karakter adalah
kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran
seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali
Gulo, 1982: p.29).
Kesimpulanya pendidikan karakter adalah Usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengerti,
menerapkan, dan mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki ciri khas yang
dapat diterapkan dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara.
Cara
Membentuk Karakter
Bagan 1 Ruang Lingkup Pendidikan Karakter (Puskur, 2011: 4)
Membentuk
karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Seorang siswa tumbuh
menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang
berkarakter pula. Ada tiga pihak yang mempunyai peran penting, yaitu keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Dalam pembentukan karakter, ada tiga hal yang
berlangsung secara terintegrasi. Pertama,
seorang siswa mengerti baik dan buruk. Ia mengerti tindakan apa yang harus
diambil serta mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kedua, ia mempunyai kecintaan terhadap
kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau
semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, seorang siswa tidak mau menyontek
ketika ulangan tengah berlangsung. Karena menyontek adalah kebiasaan
buruk, ia tidak mau melakukannya. Ketiga, siswa di dalam lingkungannya mampu melakukan kebajikan dan
terbiasa melakukannya.
Karakter-karakter
yang baik harusnya dapat dipelihara. Hal pertama yang dapat dilakukan untuk
membentuk karakter seorang siswa adalah dirumah. Ketika usia mereka di bawah tujuh tahun adalah masa terpenting dalam menanamkan
karakter pada anak. Dalam hal ini, orang tua (keluarga) perlu
menanamkan karakter tersebut sehingga pembangunan watak, akhlak atau karakter bangsa (nation
and character building,), mulai tumbuh dan dapat berkembang dalam
kesehariannya.
Selanjutnya,
dalam membangun karakter seorang siswa, pihak sekolah perlu memperhatikan aturan dan tata tertib
yang berlaku disekolah. Di era globalisasi ini, banyak sekolah yang sudah
jarang sekali menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila sehingga hubungan antara
guru dan siswa tidak begitu akrab. Begitu juga dengan banyaknya siswa yang acuh
tak acuh dengan keberadaan guru, tidak menghormati guru, dan lain-lain. Oleh
karena itu, pihak sekolah perlu memperhatikan pembinaan sikap dan karakter
masing-masing siswa dengan cara membina dan meningkatkan intelektualisme dan
profesionalisme. Selain itu, pihak sekolah juga dapat menerapkan nilai-nilai
karakter pada siswa dengan membuat aturan dan tata tertib yang dapat
menumbuhkan karakter-karakter baik, misalnya dengan membuat kantin kejujuran.
Dalam hal ini, sekolah dapat menumbuhkan karakter kejujuran pad setiap siswa.
DAFTAR PUSTAKA
- http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/
- http://bau-rana.blogspot.com/2012/05/pentingnya-pendidikan-karakter.html
- http://atiranurul.blogspot.com/2014/11/pendidikan-karakter-di-kalangan-remaja.html
- Noor, Rohinah M.2012. Mengembangkan Karakter Anak Secara Efektif. Yogyakarta: Pedagogja.

No comments:
Post a Comment