Photo: SW Productions/Photodisc/Getty Images
Definisi bullying merupakan
sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Bullying berasal dari
kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu
orang yang lemah. Beberapa istilah dalam bahasa
Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat untuk menggambarkan fenomena bullying di
antaranya adalah penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan,
atau intimidasi (Susanti, 2006).
Menurut
Coloroso (2006: 44-45) yang mengemukakan bahwa bullying akan
selalu melibatkan unsur seperti; ketidakseimbangan kekuatan (imbalance
power), keinginan untuk mencederai (desire to hurt), ancaman
agresi lebih lanjut,dan teror. Unsur keempat ini
muncul ketika ekskalasi bullying semakin meningkat. Bullying adalah
kekerasan sistematik yang digunakan untuk mengintimidasi dan memelihara
dominasi. Teror bukan hanya sebuah cara untuk mencapai bullying tapi
juga sebagai tujuan bullying.
Banyak para
ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai bullying. Seperti
pendapat Olweus (1993) dalam pikiran rakyat, 5 Juli 2007: “Bullying can consist
of any action that is used to hurt another child repeatedly and without
cause”. Bullying merupakan perilaku yang ditujukan untuk
melukai siswa lain secara terus-menerus dan tanpa sebab. Sedangkan menurut
Rigby (2005; dalam Anesty, 2009) merumuskan bahwa “bullying” merupakan sebuah
hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan dalam aksi, menyebabkan
seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau
sekelompok orang yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang
dan dilakukan dengan perasaan senang (Retno Astuti, 2008: 3).
Dari
berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan
serangan berulang secara fisik, psikologis, sosial, ataupun verbal, yang
dilakukan dalam posisi kekuatan yang secara situasional didefinisikan untuk
keuntungan atau kepuasan mereka sendiri. Bullying merupakan
bentuk awal dari perilaku agresif yaitu tingkah laku yang kasar. Bisa secara
fisik, psikis, melalui kata-kata, ataupun kombinasi dari ketiganya. Hal itu
bisa dilakukan oleh kelompok atau individu. Pelaku mengambil keuntungan dari
orang lain yang dilihatnya mudah diserang. Tindakannya bisa dengan mengejek
nama, korban diganggu atau diasingkan dan dapat merugikan korban.
Bullying memiliki beberapa ciri unik.
■
Ada perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban.
■
Ada niat untuk menimbulkan penderitaan atau rasa sakit.
■
Perilaku itu dilakukan berulang kali.
Bullying dapat bersifat:
■
lisan, misalnya memberi julukan, menggoda, mengejek, menghina, mengancam
■
fisik misalnya memukul, menendang, menyelengkat
■
sosial misalnya mengabaikan, tidak mengajak berteman, memberi isyarat yang
tidak sopan
Penanganan
- Paling ideal adalah apabila ada kebijakan dan
tindakan terintegrasi yang melibatkan seluruh komponen mulai dari guru,
murid, kepala sekolah, sampai orangtua, yang bertujuan untuk menghentikan
perilaku bullying dan menjamin rasa aman bagi korban.
- Program anti-bullying di sekolah dilakukan antara
lain dengan cara menggiatkan pengawasan dan pemberian sanksi secara tepat
kepada pelaku, atau melakukan kampanye melalui berbagai cara. Memasukkan
materi bullying ke dalam pembelajaran akan berdampak positif bagi
pengembangan pribadi para murid.
Pencegahan
- Untuk mencegah dan menghambat munculnya tindak
kekeraran di kalangan remaja, diperlukan peran dari semua pihak yang
terkait dengan lingkungan kehidupan remaja.
- Sedini mungkin, anak-anak memperoleh lingkungan
yang tepat. Keluarga-keluarga semestinya dapat menjadi tempat yang
nyaman untuk anak dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan
perasaan-perasaannya. Orang tua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang
dimiliki selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan
orang lain.
- Berikan penguatan atau pujian pada perilaku pro
sosial yang ditunjukkan oleh anak. Selanjutnya dorong anak untuk
mengambangkan bakat atau minatnya dalam kegiatan-kegiatan dan orang tua
tetap harus berkomunikasi dengan guru jika anak menunjukkan adanya masalah
yang bersumber dari sekolah.
- Selama ini, kebanyakan guru tidak terlalu
memperhatikan apa yang terjadi di antara murid-muridnya. Sangat penting
bahwa para guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai pencegahan
dan cara mengatasi bullying.
- Kurikulum sekolah dasar semestinya mengandung
unsur pengembangan sikap prososial dan guru-guru memberikan penguatan pada
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Sekolah sebaiknya
mendukung kelompok-kelompok kegiatan agar diikuti oleh seluruh siswa.
Selanjutnya sekolah menyediakan akses pengaduan atau forum dialog antara
siswa dan sekolah, atau orang tua dan sekolah, dan membangun aturan
sekolah dan sanksi yang jelas terhadap tindakan bullying.
- Jangan anggap remeh Masih banyak orangtua yang menganggap kakak kelas mengintimidasi adik kelas sebagai sebuah tradisi, demikian juga perlakuan kasar yang diterima anak dari temannya sering diabaikan karena akan berlalu seiring dengan waktu. Saatnya untuk mengubah pandangan tersebut. Jalin komunikasi yang dalam dengan anak, berilah perhatian lebih bila anak tiba-tiba murung dan malas ke sekolah.
- Ajari anak untuk melindungi dirinya Ajari anak
untuk bersikap self defense dalam arti menhindari diri
dari korban atau pelaku kekerasan. Katakan kepadanya, “Kalau kamu dipukul
temanmu, kamu harus memberitahukan kepada Ibu Guru.” Bukan malah
mengajarkan perilaku membalas atau menggunakan kekuatan dalam
mempertahankan diri. Selain itu, ajarkan pula untuk bersikap asertif atau
mengatakan “tidak” terhadap hal-hal yang memang seharusnya tidak
dilakukan. Selain itu, jangan biasakan anak membawa barang mahal atau uang
berlebih ke sekolah karena bisa berpotensi menjadi incaran pelaku bullying.
Pupuk kepercayaan diri anak, misalnya dengan aktif mengikuti kegiatan
ekskul.
·
Bina relasi dengan
guru dan orangtua murid Bina relasi dan komunikasi yang baik dengan guru di
sekolah atau orangtua murid lainnya. Anda bisa mendapatkan informasi adanya
kasus bullying atau melaporkan kepada guru bila si kecil bercerita
mengenai temannya yang dipukul, misalnya.
Pemberdayaan
individual bagi anak.
·
Beri kesempatan agar
anak mau mengomunikasikan secara terbuka kepada orangtua, guru, atau orang
dewasa lain yang mereka percaya dapat membantu mereka. Pupuk kedekatan
hubungan, hargai perasaannya jika sedang curhat, tidak menyelamatkannya dari
emosi negatif, tetapi berdayakan dia. Mengalami kondisi sulit akan membentuk
daya tahan baginya.
·
Katakan kepada anak
bahwa tidak ada satu pun cara yang paling tepat untuk menghadapi bullying, satu
cara yang terlihat benar bagi seseorang mungkin tidak sesuai untuk yang lain.
Yang penting adalah bahwa anak sudah mencoba, mengetahui berbagai pilihan cara,
dan dapat memutuskan siapa yang dapat membantunya sejauh ini. Saran untuk
mengabaikan tindakan pelaku bisa saja diberikan, tetapi tidak selalu berhasil.
Perlu dilakukan strategi lainnya.
·
Latih anak untuk berani
bicara, dengan kata lain bertindak asertif. Biarkan pelaku tahu bahwa anak
tidak nyaman dengan perlakuannya, tetapi dengan kata-kata yang tidak balik
menyakiti dan tidak membiarkan tindakan bullying terus berlangsung. Anak
sebagai korban memiliki hak untuk membela diri, dan ada cara cerdas untuk
melakukannya. Pastikan anak berbicara dengan cara yang memecahkan masalah dan
tidak menciptakan lebih banyak masalah dengan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
- Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, S.R. 2004. Psikologi Perkembangan: pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
- Awalya, dkk.2013.Bimbingan dan Konseling.Semarang: Unnes Press.
- http://growupclinic.com/2014/
- http://www.smaksantoyosephdenpasar.sch.id/news/2014/175/1/0/Bullying-Di-Sekolah--Cara-Pencegahan-dan-Penanganannya.html
- perilaku-bullying-ditinjau-dari-harga-diri-dan-pemahaman-moral-anak-chrishtoporus-argo-mpsi.pdf

No comments:
Post a Comment